Sabtu, 03 Desember 2016

Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW

Rangkaian Kegiatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1438 H.Diadakan di Kampus STIE STIH Lamaddukelleng pada tanggal 4 Desember 2016 di ruangan Aula STIE STIH Lamaddukelleng..

Sabtu, 15 Oktober 2016

STIH-STIE Lamaddukelleng KKLP di Majauleng

Sedikitnya 114 mahasiswa dari Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Lamaddukelleng Wajo dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Lamaddukelleng Wajo, mengikuti program Kuliah Kerja Lapangan (KKLP) di Kecamatan Majauleng Wajo. Para calon sarjana hukum dan sarjana ekonomi itu disebar pada 7 desa dan 3 kelurahan, selama dua bulan berbaur dan berinteraksi dengan masyarakat desa. Demikian ditegaskan Ketua STIH Lamaddukelleng Wajo, Prof.Dr. Siardin Andi Jemma, M.Si Jumat 14 Agustus di Wajo.
Mahasiswa mulai berada di lokasi awal Agustus dan berakhir September 2015. Selama berada di desa kegiatan yang dilakukan di antaranya membantu aparat desa melakukan pembenahan administrasi desa serta bersama masyarakat melakukan pembenahan batas desa dan tanda-tanda administrasi desa lainnya, tegas Dosen Dipekerjakan Kopertis (DPK) di kampusnya itu.
Selain itu, mahasiswa juga melakukan advokasi dan penyuluhan akan pentingnya menjaga ketertiban dan keamanan serta menyelamatkan generasi muda dari bayang-bayang ancaman narkoba dan zat adaptif lainnya. Juga memasang spanduk di sudut desa tentang pentingnya mencegah terjadinya kasus-kasus korupsi pada semua lini kehidupan, tandas mantan Ketua KPU Wajo ini.
Selama mahasiswa berada di tengah masyarakat desa, mereka didampingi para dosen pembimbing di antaranya; Andi Bau Mallelengeng, SH, MH; Ismail Ali, SH,MH; Maskawati, SH, MH; Andi Syamsir, SH, MH; Dr.H.Andi Baharuddin Palassari, SH, M.Ag; Andi Bau Salman, SE, MM; Drs.H.Baso Harun, M.Si; Drs.Andi Bakti, M.Si; H. Norman Dg Bau SE, MSi, ungkap anggota pleno Pengurus Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu Ilmu Sosial (HIPIIS) Provinsi Sulsel 2014-2017 ini.
Para dosen pembimbing itu mendampingi mahasiswa melaksanakan program kerja yang akan direalisasikan selama berada di desa. Hasil kerja di desa kemudian disusun dalam bentuk laporan karya ilmiah, kemudian diseminarkan setelah mahasiswa ditarik masuk kembali ke kampus, tandas mantan anggota DPRD Wajo dari Fraksi Partai Golkar ini.
Rangkaian dari KKLP ini awal September mahasiswa akan melakukan studi banding Jawa dan Bali dengan mengunjungi beberapa kampus negeri dan swasta di Bali dan Surabaya, tegas salah seorang profesor yang menetap di Wajo ini.
Prof Andi Siardin meraih guru besar ilmu hukum 2007 dengan pangkat golongan IV-E, menyelesaikan S1 Fisip UVRI Makassar, S2 Admistrasi Publik PPs-Unhas 1996 serta S3 hukum PPs-UNHAS .
DPK selama 13 tahun, 6 bulan dan 14 hari di STIA Prima Sengkang Wajo. Ketua Non Aktif, Yayasan Pengembangan Sumber Daya Insani YP-SDI Lamaddukelleng. Anggota DPRD Wajo 2007-2012 dari Fraksi Partai Golkar serta pernah mendapat SK Kadis Pendidikan Wajo 2009 dari Bupati Wajo Andi Burhanuddin,tetapi mengundurkan diri.

SEJARAH SINGKAT LAMADDUKELLENG

La Maddukkelleng adalah seorang ksatria dari Wajo, Sulawesi Selatan. Pada masa kecilnya hidup di lingkungan istana (Arung Matowa Wajo) Wajo. Menginjak masa remaja ia diajak oleh pamannya mengikuti acara adu (sambung) ayam di kerajaan tetangganya Bone. Namun pada waktu itu terjadi ketidak adilan penyelenggaraan acara tersebut dimana orang Wajo merasa dipihak yang teraniaya, La Maddukkelleng tidak menerima hal tersebut dan terjadilah perkelahian.Ia lalu kembali ke Wajo dalam pengejaran orang Bone, lalu lewat Dewan Ade Pitue, ia memohon izin untuk merantau mencari ilmu. Dengan berbekal Tiga Ujung, (ujung mulut, ujung tombak, dan ujung kemaluan) ia berhasil di negeri Pasir (Kalimantan) sampai ke Malaysia, dan merajai Selat Makassar, hingga Belanda menjulukinya dengan Bajak Laut. Dia berhasil menikah dengan puteri raja Pasir, dan salah seorang puterinya kawin dengan Raja Kutai. Dia bersama pengikutnya terus menerus melawan Belanda. Setelah sepuluh tahun La Maddukkelleng memerintah Pasir sebagai Sultan Pasir, datanglah utusan dari Arung Matowa Wajo La Salewangeng yang bernama La Dalle Arung Taa menghadap Sultan Pasir dengan membawa surat yang isinya mengajak kembali, karena Wajo dalam ancaman Bone. La Maddukkelleng akhirnya kembalilagi ke Tanah Wajo dan melalui suatu mufakat Arung Ennengnge (Dewan Adat), beliau diangkat sebagai Arung Matowa Wajo XXXIV. Dalam pemerintahannya, tercatat berhasil menciptakan strategi pemerintahan yang cemerlang yang terus menerus melawan dominasi Belanda danmembebaskan Wajo dari penjajahan diktean Kerajaan Bone, juga keberhasilan memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Wajo
LA MADDUKKELLENG adalah putera dari Arung (Raja) Peneki La Mataesdso To Ma’dettia dan We Tenriangka Arung (Raja) Sengkang, saudara Arung Matowa Wajo La Salewangeng To Tenrirua (1713-1737). Karena itulah La Maddukkelleng sering disebut Arung Singkang dan Arung Peneki.
Pada tahun 1713, Raja Bone La Patau Matanna Tikka mengundang Arung Matowa Wajo La Salewangeng untuk menghadiri perayaan pelubangan telinga (pemasangan giwang) puterinya I Wale di Cenrana (daerah kerajaan Bone). La Maddukkelleng ditugaskan pamannya (dia putera saudara perempuan La Salewangeng) ikut serta dengan tugas memegang tempat sirih raja. Sebagaimana lazimnya dilakukan di setiap pesta raja-raja Bugis-Makassar, diadakanlah ajang perlombaan perburuan rusa (maddenggeng) dan sambung ayam (mappabbitte).
Pada saat berlangsungnya pesta sambung ayam tersebut, ayam putera Raja Bone mati dikalahkan oleh ayam Arung Matowa Wajo. Kemenangan itu tidak diakui oleh orang-orang Bone dan mereka berpendapat bahw pertarungan tersebut sama kuatnya. Hal tersebutlah yang menyebabkan terjadinya keributan. Pada saat itu La Maddukkelleng turut serta dalam perkelahian tersebut yang mengakibatkan korban di pihak Bone lebih banyak dibandingkan korban pihak Wajo. Lontarak Sukunna Wajo menyatakan bahwa pada waktu terjadi perkelahian tersebut, terjadi tikam menikam antara orang-orang Wajo-Bone di Cenrana, saat itu La Maddukkelleng baru saja disunat dan belum sembuh lukanya. Melihat kenyataan tersebut (karena mereka di wilayah kerajaan Bone), maka orang-orang Wajo segera melarikan diri melalui Sungai Walennae.
Setibanya Arung Matowa Wajo La Salewangeng di Tosora, maka datanglah utusan Raja Bone untuk meminta agar La Maddukkelleng diserahkan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya (dianggap bersalah). Arung Matowa Wajo mengatakan bahwa La Maddukkelleng tidak kembali ke Wajo sejak peristiwa di Cenrana. Utusan raja Bone itu kembali sekalipun ia yakin bahwa La Maddukkelleng masih berada di daerah Wajo, namun tidak dapat berbuat banyak karena adanya ikrar antara Bone, Soppeng dan Wajo di Timurung pada tahun 1582, bahwa tiga kerajaan itu harus saling mempercayai.
La Maddukkelleng datang menghadap dan meminta restu Arung Matowa Wajo dan Dewan Pemerintah Wajo (arung bentempola) untuk berlayar meninggalkan daerah Wajo. Saat itu bertepatan dengan selesainya pembangunan gedung tempat penyimpanan harta kekayaan di sebelah timur masjid Tosora serta gedung padi di tiga limpo. Anggota Dewan pemerintah Kerajaan Wajo (La Tenri Wija Daeng Situju) berpesan agar senantiasa mengingat negeri Wajo selama perantauan. Lalu La Maddukkelleng ditanya tentang bekal yang akan dibawa, ia menjawab bahwa ada tiga bekal yang akan dibawa serta yaitu: pertama lemahnya lidahku, kedua tajamnya ujung kerisku dan yang ketiga ujung kelaki-lakianku.
Dengan disertai pengikut-pengikutnya La Maddukkelleng berangkat dari Peneki dengan menggunakan perahu layar menuju Johor (Malaysia sekarang). Lontarak Sukunna Wajo memberitakan bahwa La Maddukkelleng dalam perjalanan bertemu dengan saudaranya bernama Daeng Matekko, seorang saudagar kaya Johor. Hal ini membuktikan bahwa lama sebelumnya orang-orang Wajo sudah merambah jauh negeri orang. La Maddukkelleng diperkirakan merantau pada masa akhir pemerintahan Raja Bone La Patauk Matanna Tikka Nyilinna Walinonoe, yang merangkap sebagai Datu Soppeng dan Ranreng Tuwa Wajo, sekitar tahun 1714.